oleh

Kevin Mahasiswa Unja, Minta Pemkot Lebih Waspada Jangan Gagal Atasi Pandemi Virus C-19

Sungai penuh – Mewaspadai penyebaran Virus Corona C-19, dikota sungai penuh butuh ekstra ketat, dikarekan kota sungai penuh walaupun hanya memiliki pintu masuk dari luar kota hanya satu yaitu perbatasan pesisir selatan, namun perlu di antisifasi setiap jalan masuk perbatas kabupaten kerinci ke kota sungai penuh dan jalan jalan tikus antar desa penghubung kabupaten kerinci ke kota sungai penuh.

Hal itu diungkapkan oleh salah satu Mahasiswa Unja Asal kota sungai penuh, kamis (26/03) pukul 13:30 wib. ia menyebutkan bahwa perlu adanya penanganan lebih serius cepat tepat dalam pemeriksaan terhadap masyarakat dari luar daerah kabupaten tetangga walaupun itu kabupaten tetangga yang kabarnya warganya banyak yang pulang dari Malaysia lewat jalur belakang.

“Pemkot sungai penuh, khususnya walikota jangan gagal menangani pandemi covid-19. saya perhatikan tidak ada mitigasi yang dilakukan secara ketat, aktif, dan serius dalam rangka pencegahan pandemi covid-19, buktinya tidak ada data rill dari pemkot terkait pandemi covid -19. sementara akses keluar masuk kota sungai penuh terbuka bebas baik itu kabupaten tetangga maupun kabupaten kerinci, terlebih kota sungai penuh sangat berpotensi mendatangkan wisatawan dan menetap dikarenakan sebagian besar perhotelan berada diwilayah kota sungai penuh” ungkap Kevin.

Kevin juga berharap agar walikota sungai penuh dapat tangap akan pemeriksaan warga kabupaten kerinci yang masuk kekota sungai penuh, perketat pemeriksaan dijalur jalur pintu masuk ke kota sungai penuh, mapun jalur masuk antar desa kabupaten kerinci ke kota sungai penuh.

“Kita minta kepada walikota sungai penuh, agar lebih memperketat penjagaan dan pemeriksaan terhadap masyarakat dari luar daerah khususnya warga masyarakat kabupaten kerinci yang masuk ke kota sungai penuh, baik itu jalur masuk batas kota maupun jalur masuk jalan tikus antar desa yang berdampingan dengan kota sungai penuh” tambah kevin lagi.

Kevin juga menjelaskan seperti halnya, Dunia bukan sekarang saja bergejolak karena penyakit. Pandemi seperti virus Corona pernah menimpa umat manusia sebelumnya dan mengakibatkan kematian massal.

Misalnya pandemi flu babi atau swine flu pada 2009 yang menewaskan hingga ratusan ribu orang di dunia. Selain pandemi, manusia pun pernah tertimpa epidemi. Misalnya epidemi HIV pada 1980-an yang menimpa ratusan ribu orang dan SARS pada 2003 yang menyebabkan 800 orang meninggal dunia di 34 negara.

Klasifikasi penyakit termasuk pandemi, endemi atau wabah berdasarkan luas wilayah yang terdampak dalam waktu tertentu. Jika sangat luas dan simultan penyebarannya, maka bisa disebut sebagai pandemi. Corona telah menyebar ke lebih dari 169 negara dunia dengan angka kematian menurut University and Medicine sampai 24 Maret 2020 sebanyak 17.241 jiwa. Di Indonesia sudah 686 kasus dengan 55 orang meninggal. Virus Corona atau Covid-19 masih satu keluarga dengan SARS dan MERS.

Namun, Corona paling cepat menyebar antar manusia. Data Reuters pada 1 Februari 2020 menyatakan, virus yang bermula dari Wuhan, Tiongkok ini menimpa 1000 orang dalam 48 hari pertama.

Dalam kasus pandemi Corona, telah terlihat dampaknya secara sosial akibat kemerosotan ekonomi yang ditimbulkannya. Hal ini sangat penting menjadi perhatian pemkot sungai penuh. (Red)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed